/* CSS to hid navigation bar */ #navbar { height:10px; visibility:hidden; display:none; }

Sabtu, 12 November 2011

KRITERIA SEORANG PEMIMPIN

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas

SIFAT- SIFAT KEPEMIMPINA

Sifat- sifat Kepemimpina Antaralain sebagai berikut :

1. Memiliki Kecerdasan

Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.

Kecerdasan emosional atau EQ yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman di sekitar pertengahan tahun 1990-an menjelaskan dalam bukunya yang bertulis kan kemampuan seseorang untuk mendeteksi dan mengelola emosi. Kecerdasan emosional ini sangat penting sekali melekat pada aspek kepemimpinan seseorang. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan manajer dalam memahami dan mengelola emosinya dan juga emosi bawahannya maupun orang lain merupakan kunci kerberhasilan kinerja bisnisnya dalam memimpin suatu institusi. Daniel Goleman telah menulis dan menerbitkan buku berjudul Emotional Intelligence (1995) dalam Stuart Crainer dan Des Dearlove (Handbook of Management, 2001). Dia menyimpulkan bahwa kompetensi insani seseorang seperti kesadaran diri, kedisiplinan diri, ketekunan yang terus menerus, dan empati mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja institusinya.

Goleman sebagai seorang psikolog mengadop pendapat Peter Salovey, seorang psikolog dari Universitas Yale, tentang arti kecerdasan emosional. Menurut Salovey, kecerdasan emosional dapat diamati dari lima perspektif yakni, pemahaman emosi diri, pengelolaan emosi, pemotivasian diri, pengenalan diri, dan membangun hubungan. Dalam bukunya yang lain berjudul Working With Emotional Intelligence,(1998),

Goleman kembali menegaskan bahwa kompetensi pekerjaan yang didasarkan pada kecerdasan emosional memainkan peranan yang lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual atau ketrampilan teknis.

Menurut Goleman, ada empat level kecerdasan emosi.

Level pertama adalah self awareness atau kesadaran diri. Pada tahap ini, seorang pemimpin atau pegawai dapat mengenal dan memahami emosi, kekuatan dan kelemahan, nilai-nilai serta motivasi dirinya.

Pada level kedua, yaitu self management atau kelola diri Pemimpin atau pegawai tidak hanya mampu mengenal dan memahami emosinya, juga mampu mengelola, mengendalikan dan mengarahkannya.

Pemimpin yang memiliki kemampuan kelola diri yang baik secara rutin melakukan evaluasi diri setelah menghadapi keberhasilan maupun kesuksesan dan mampu mempertahankan motivasi dan perilaku kerjanya untuk menghasilkan kinerja yang baik.

Pada level ketiga yang disebut social awareness atau kesadaran social

Pemimpin atau pegawai sudah mampu berempati, yaitu peka terhadap perasaan, pemikiran, dan situasi yang dihadapi orang lain. Kecerdasan emosi memampukan kita untuk menyadari dan memahami perasaan sendiri dan orang lain, memampukan kita menilai suatu situasi dan bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapi. Pada level yang keempat yaitu relationship management atau kelola hubungan

Seorang Pemimpin atau pegawai mampu mengendalikan dan mengarahkan emosi orang lain. Pemimpin tersebut mampu menginspirasi orang lain,memengaruhi perasaan dan keyakinan orang lain, mengembangkan kapabilitas orang lain, mengatasi konflik, membina hubungan, dan membentuk kerja sama yang menguntungkan semua pihak.

2. Kemampuan Menyesuaiakan

Setiap pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi. Misalnya ketika memimpin pegawai yang masih baru, seorang pemimpin sebaiknya menerapkan kepemimpinan yang berorientasi tugas dan intensitas pemantauan produksi tinggi (jumlah, mutu, tingkat kerusakan). Jadi disini dibutuhkan kecerdasan intelektual atau teknis yang lebih besar. Sementara ketika menghadapi pegawai yang semakin senior maka gaya kepemimpinannya berorientasi pada memelihara otonomi, motivasi dan hubungan sosial. Dan disini dibutuhkan kecerdasan emosional yang lebih besar.

Jadi bisa disimpulkan bahwa menganalisis hubungan keberhasilan seseorang dengan bentuk kecerdasannya harus dilihat secara proporsional. Dalam prakteknya perlu diposisikan dua kecerdasan itu dalam konteks dengan output (kinerja) dan posisi pekerjaan secara seimbang. Kecerdasan intelektual dapat dipandang sebagai syarat keutamaan. Tetapi syarat itu masih kurang dan harus ditambah dengan syarat kecukupan yakni kecerdasan emosional. Dan kecerdasan emosional seseorang itu sendiri cenderung berhubungan positif dengan faktor usianya. Semakin tua usia seseorang sampai batas tertentu semakin tinggi kecerdasan emosionalnya. Semakin besar syarat kecukupan seseorang semakin besar kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya; pada tingkat kecerdasan intelektual dan posisi tertentu.

3. Memiliki Kearifan

Pemimpin dan dipimpin adalah suatu siklus natural dalam kehidupan.dan tak luput dari sifar kearifan. Ada saatnya kita harus memimpin, tetapi ada saatnya pula kita harus dipimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang berpengaruh dan diikuti. Seorang pemimpin formal, yang menduduki suatu jabatan tertentu, berpengaruh dan diikuti karena wewenangnya. Namun ada pula seseseorang, yang meskipun tidak memiliki jabatan tertentu, tetapi orang tersebut berpengaruh dan diikuti oleh orang lain.

Jadi, ada pemimpin yang berpengaruh dan diikuti karena ditakuti, tetapi ada pula yang berpengaruh dan diikuti karena dicintai.Pemimpin tipe yang terakhir inilah yang disebut pemimpin sejati, yang berpengaruh dan diikuti karena “orangnya” bukan karena “jabatannya”. Sekarang yang perlu dicari jawabannya adalah bagaimana menjadi pemimpin sejati atau true leader? Seorang pemimpin sejati memandang orang lain sebagai “manusia” yang harus dihargai karena sifat kemanusiaannya. Seorang pemimpin sejati “nguwongake”, memanusiakan manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tinggi-pendek, manajer-karyawan hanyalah variasi.

Hakekatnya tetap manusia. Seorang pemimpin sejati menghormati orang yang ‘memimpin’ dan menghormati pula orang yang ‘dipimpin’. Memimpin-dipimpin adalah alami, bahkan tidak bisa dihindari. Sudah kodrat manusia untuk memimpin, dan kodrat pula untuk dipimpin. Untuk itulah dikotomi atasan-bawahan sebenarnya kurang tepat, karena yang sebenarnya ada hanyalah perbedaan peran. Dikotomi atasan bawahan menimbulkan efek berkuasa-tidak berkuasa, atau setidak-tidaknya mengutamakan tingkatan kekuasaan. Inilah yang kurang tepat.

4. Dominan

Dalam konteks manajemen, mengambil peran dominan merupakan salah satu sifat kepemimpinan. Keberadaan seorang pemimpin dapat dengan mudah kita kenali hanya dengan melihat seberapa besar dominasinya di antara sekelompok orang.

Dalam lingkup diri sendiri, sifat kepemimpinan kita dapat dengan mudah dikenali oleh diri kita sendiri dengan merasakan seberapa besar dominasi hati nurani kita terhadap sikap dan perilaku sehari-hari.

Di lingkungan masyarakat, kerap kita menilai sifat kepemimpinan seorang pemimpin. Ada yang dinilai arif, bijaksana, bertanggungjawab, jujur dan sederet istilah positif lainnya. Namun, ada pula yang dinilai brengsek, sadis dan sederet istilah negatif lainnya.

5. Kepekaan

Para pemimpin yang cerdas hanya mempercayai sebagian dari apa yang mereka dengar. Para pemimpin yang memiliki kepekaan akan mengetahui bagian mana yang harus mereka percayai. Karena dengan kepekaan akan dapat mengetahui dan menyelesaikan suatu masalah. Kepekaan dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk menemukan akar persoalan. Kemampuan ini tergantung pada intuisi atau nalar seseorang. Para pemimpin yang efektif membutuhkan kepekaan, walaupun mereka tidak selalu menunjukkannya. Kepekaan adalah kualitas yang tak tergantikan bagi pemimpin manapun yang ingin memaksimalkan keefektifannya. Kepekaan akan membantu mengerjakan beberapa hal penting, yaitu :

1. Menemukan akar persoalan.

Para pemimpin organisasi besar harus mengatasi kekacauan serta kerumitan yang luar biasa setiap harinya. Mereka kadang tidak mengumpukan informasi yang cukup untuk mendapatkan gambaran lengkap dari segalanya. Akibatnya, mereka harus mengandalkan kepekaan. Periset Henry Mintzberg dari McGill University menyatakan, “Keefektifan organisasi bukanlah terletak pada konsep sempit yang disebut rasionalitas. Efektif itu terletak pada gabungan antara logika berpikir dan intuisi yang kuat”. Kepekaan memungkinkan seorang pemimpin melihat sebagian gambarannya, melengkapinya secara intuitif, dengan menemukan inti permasalahan.

2. Meningkatkan kemampuan untuk mengatasi persoalan.

Jika Anda dapat melihat akar persoalan, Anda dapat mengatasinya. Semakin dekat seorang pemimpin dengan hal-hal yang bisa ia kerjakan dengan baik, semakin kuat intuisi dan kemampuannya untuk melihat akar persoalan. Jika ingin memaksimalkan potensi kepekaan dalam diri Anda, belajarlah di bidang yang menjadi kekuatan Anda.

3. Mengevaluasi pilihan-pilihan yang ada demi dampak maksimal.

Konsultan manajemen, Robert Heller, memberikan nasihatnya, ”Jangan pernah mengabaikan firasat, jangan pernah juga percaya bahwa firasat itu saja cukup”. Kepekaan bukanlah hanya mengandalkan intuisi atau hanya pada intelektual. Kepekaan memungkinkan Anda menggunakan firasat sekaligus nalar Anda untuk menemukan pilihan terbaik bagi orang-orang serta organisasi Anda.

6. Ekstropeksi

Ekstrospeksi diri adalah melihat keluar ke orang lain, cenderung mempunyai arti negative untuk mencari pembenaran diri sendiri.

Instropeksi diri dilakukan agar jangan sampai kita melakukan kesalahan dalam hal menyakiti atau merugikan orang lain. Sebagai contoh, jika kita tidak ingin dicubit maka kita jangan mencubit orang lain, kalau kita tidak ingin dirugikan maka kita juga jangan merugikan orang lain, ataupun jika kita tidak ingin dibohongi maka kitapun jangan berbohong, dsb. Dengan selalu melakukan introspeksi diri niscaya kita akan terhindar dari perbuatan yang tidak benar, yang pada akhirnya hanya akan menambah dosa kita. Dengan selalu melakukan introspeksi diri akan melatih kita agar selalu berpikir untuk kepentingan orang lain terlebih dahulu, sebelum kita berpikir untuk kepentingan diri sendiri.

Ekstrospeksi diri biasanya dilakukan oleh orang yang egois, yang mementingkan diri sendiri dalam upaya mencari pembenaran atas sikap dan perilaku yang tidak benar dalam dirinya. Sebagai contoh, jika dia suka berbohong dia akan berpikir bahwa orang lain juga pasti berbohong seperti dirinya. Jika dia selingkuh atau melakukan perbuatan curang, dia akan berkata bahwa orang lain juga pasti melakukan seperti apa yang dia lakukan. Orang ini selalu berburuk sangka pada orang lain karena dia tidak percaya bahwa ada orang yang lebih baik dari dirinya. Kecenderungan dari orang yang tidak percaya pada orang lain adalah karena dirinya sendiri memang juga tidak bisa dipercaya. Dengan pola pikir seperti ini orang tersebut cenderung akan selalu dituntun untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

7 Sifat kejantanan

sifat-sifat kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin termasuk jiwa kejantanan yang dimaksud jiwa jkejantanan ialan Seorang pemimpin harus memiliki jiwa yang kuat. dimaksud dengan kekuatan di sini adalah kekuatan pola pikir dan pola jiwa. Seorang pemimpin mesti memiliki kecerdasan dan kemampuan berpikir yang tinggi. Sebab, ia tidak akan mungkin bisa memutuskan perkara-perkara yang pelik, sedangkan ia tidak memiliki kemampuan akal yang cukup. Di samping harus memiliki kekuatan akal, seorang pemimpin juga harus memiliki kekuatan jiwa. Kekuatan jiwa ini akan membentengi dirinya dari kecenderungan-kecenderungan untuk membangkang aturan, bertindak menyeleweng, atau menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan dirinya sendiri.

KESIMPULAN

Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.

Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

Catatan kalau kurang Ditambah ok heheheheheheheh :-p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar